Produk Sudah Dimasukkan Trolley Belanja
OK

Kisah Dibalik Meriam yang Berusia Lebih dari 4 Abad yang Terletak di Istana Maimun, Medan

Diposkan: 03 Jan 2022 16:01:05 PM Dibaca: 121 kali


MOWIEE - Salah Satu ikon legendaris kota Medan, Istana Maimun, yang ada di Jalan Brigjen Katamso Medan, memiliki berbagai kisah bersejarah yang menarik untuk di gali. Ada berbagai kisah sejarah menarik yang bisa digali, mulai dari zaman masuknya peradaban Islam, penjajahan Belanda, sampai dengan kemerdekaan.

Meriam Puntung menjadi salah satu kisah sejarah di Istana Maimun yang bisa Anda eksplor. Meriam ini menjadi saksi bisu kelahiran cikal bakal kerajaan Islam, Kesultanan Deli di Kota Medan. Meriam Puntung ditempatkan areal Istana Maimun, dimana sampai kini benda bersejarah ini masih banyak dikunjungi wisatawan.

Di Bulan Ramadhan sendiri, wisata Meriam Puntung tetap dibuka yakni mulai pukul 09.00 WIB - 18.00 WIB. Tentu momen tersebut bisa dijadikan pilihan oleh masyarakat untuk menghabiskan waktu sambil menunggu waktu berbuka puasa tiba atau ngabuburit.

Salah satu pemandu wisata menyatakan bahwa, Meriam Puntung tersebut adalah peninggalan peperangan yang tejadi antara Kerajaan Haru dengan Kerajaan Aceh, yang pecah di tahun 1612 M di Delitua (Sumatera Utara).

Lalu bagaimana awal mula terjadinya peperangan tersebut?

Syarida, seorang pemandu wisata menyebut bahwa dulu  terdapat kerajaan yang lebih awal, bernama Kerajaan Haru yang terletak di  Delitua. Haru memiliki dua pria dan yang tengah bernama Putri Hijau.

Ia menyatakan bahwa, Sultan Aceh ingin mempersunting Putri Hijau. Namun. Namun sang putri justru menolak permintaan tersebut. Hal inilah yang kemudian kerajaan Aceh menyerang kerajaan Putri Hijau.

Peperangan antara kedua kerajaan tersebut terjadi di Delitua. Dalam cerita Syarida, meriam ini ditembakkan ke pasukan Aceh yang tengah menyerang. Karena digunakan untuk menembak secara terus menerus, pada akhirnya meriam menjadi panas, merah dan kemudian patah atau menjadi puntung. Kemudian patahan tersebut terpental ke dataran tinggi Suka Nalu, Kabupaten, Karo.

Baca Juga: Mengapa Wisata Edukasi Penting untuk Anak? Ketahui Alasannya Berikut Ini

Syarida juga menyatakan bahwa, patahan meriam yang ada di Kabupaten Karo, sampai kini juga masih dapat ditemukan. Di patahan meriam tersebut dibuat rumah seperti di Istana maimun, rumah Karo. Perbedaannya jika di Istana Maimun, kelambunya berwarna kuning atau hijau  yang menjadi ciri khas Melayu, sedangkan di sana menggunakan warna putih.

Singkat cerita, dalam peperangan Kerajaan Haru dikalahkan oleh Kerajaan Aceh. Setelah Kerajaan Haru berhasil ditaklukkan, kemudian didirikanlah sebuah kerajaan yang menjadi cikal bakal, Kesultanan Deli oleh Panglima Perang Sultan Aceh bernama Gocah Pahlawan.

Kemudian meriam bekas peperangan tersebut dibawa untuk dijadikan sebagai kenang-kenangan perang dan sebagai bentuk penghormatan. Meriam tersebut sudah berusia 4 abad lebih dan dimandikan dan diberi minyak setiap tahun baru Islam.

Jika Anda tertarik untuk berkunjung ke Istana Maimun dan tempat wisata menrik lainnya di Kota Medan, maka Anda dapat memilih Mowiee (Mobil Wisata Edukasi Entrepreneurship) sebagai armada wisata Anda. Anda bukan hanya diajak menjelajahi tempat-tempat bersejarah saja, namun bersama Mowiee, Anda juga akan mendapatkan motivasi dan edukasi dalam berwirausaha.

Bersama Mowiee, para wisatawan akan memperoleh pengalaman wisata baru yang tidak akan terlupakan. Mobil ini merupakan mobil wisata edukasi pertama di Indonesia yang hadir dengan konsep kewirausahaan. Rute perjalanan Mowiee adalah kawasan Istana Maimun, Masjid Raya Al Mashun, Rumah Tjong A Fie, Merdeka Walk, Kantor Pos, Patung Guru Patimpus, Pusat Jajanan Mojopahit, Home Industri UKM, Sentra UMK dan juga Narsis Education. Jika tertarik, Anda dapat menghubungi kontak person kami!


Tags